Sinar Bintang | Tasikmalaya, 28 Agustus 2026
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program unggulan pemerintah pusat yang dirancang untuk menjawab dua tantangan strategis bangsa sekaligus: peningkatan kualitas gizi generasi penerus guna menurunkan angka stunting serta mendorong kecerdasan dan produktivitas anak-anak bangsa, di samping berperan sebagai katalisator penguatan ekonomi di tingkat masyarakat. Program ini tidak hanya berfokus pada penyediaan asupan gizi yang seimbang bagi penerima manfaat, melainkan juga dirancang sebagai instrumen pemerataan pembangunan yang menyentuh sendi-sendi kehidupan ekonomi rakyat secara langsung. Di Kota Tasikmalaya, semangat besar program ini diwujudkan secara nyata melalui kepemimpinan dan visi Dadang Daruslan, Koordinator Kota sekaligus Pemilik Dapur SPPG Kota Tasikmalaya, yang melihat MBG bukan sekadar pelaksanaan tugas negara, melainkan sebuah gerakan pemberdayaan menyeluruh yang tumbuh dari, oleh, dan untuk masyarakat.
Dalam wawancara eksklusif bersama media Sinar Bintang, Dadang Daruslan menguraikan secara mendalam bagaimana program MBG di bawah pengelolaannya berkembang menjadi ruang luas bagi pemberdayaan sosial dan ekonomi masyarakat. “Kehadiran program MBG ini sangat positif sekali. Hal ini terlihat dari adanya nilai pemberdayaan yang nyata bagi masyarakat, mulai dari aspek ketenagakerjaan hingga penguatan ekonomi pelaku usaha lokal,” ujar Dadang, membuka penjelasannya yang sarat makna kebijakan sosial.
Dalam aspek ketenagakerjaan, Dadang menerapkan prinsip inklusivitas yang menjadi cerminan keadilan sosial. Rekrutmen tenaga kerja untuk dapur SPPG tidak mendasarkan pada latar belakang pendidikan maupun status sosial. Baik lulusan SMP maupun SLTA, siapa pun yang memiliki kemampuan dan kemauan bekerja diberi kesempatan yang sama. “Kami tidak memandang status pendidikan. Yang penting mampu dan mau bekerja. Semua kami rekrut untuk memberi pekerjaan, agar angka pengangguran di Kota Tasikmalaya dapat berkurang, terutama bagi golongan menengah ke bawah yang menjadi prioritas kami,” tegas Dadang. Kebijakan sederhana namun bermakna mendalam ini membuktikan bahwa satu langkah kebijakan yang humanis mampu membuka ruang harapan bagi mereka yang selama ini tersisih dari akses kesempatan kerja.
Kepedulian Dadang terhadap pemberdayaan masyarakat tidak berhenti pada penyediaan lapangan kerja. Beliau merancang sistem kemitraan strategis yang saling menguntungkan dengan para petani lokal yang bergerak di sektor perkebunan. Melalui skema pemberian bantuan pinjaman benih serta kebutuhan bertani lainnya, para petani didukung untuk meningkatkan produktivitas lahan mereka. Hasil panen tersebut kemudian dibeli oleh dapur SPPG untuk kebutuhan operasional program. Sistem ini dilakukan secara bergantian antar kelompok petani, sehingga pemerataan manfaat dapat dirasakan secara adil dan berkelanjutan. “Kami ingin memastikan bahwa hasil kerja keras para petani dihargai dan terserap pasar dengan baik, tanpa harus terjebak dalam tekanan harga yang merugikan,” jelas Dadang. Pemikiran ini menunjukkan kedalaman visi beliau: tidak sekadar membeli bahan pangan, melainkan membangun kemandirian ekonomi petani melalui dukungan yang berkelanjutan.
Kebijakan serupa yang mencerminkan keadilan dan kepedulian juga diterapkan terhadap para pengrajin tahu di wilayah Kota Tasikmalaya yang berjumlah empat pabrik. Dadang menyusun pola pengadaan yang sangat adil dan terukur: pembelian hasil produksi dilakukan secara bergantian setiap minggu. Pada minggu ini, dapur membeli dari pabrik pertama, minggu berikutnya beralih ke pabrik kedua, dan seterusnya hingga keempat pabrik semuanya terlayani secara merata. Yang ditekankan adalah dapur membelinya secara langsung dengan harga yang wajar, bukan sekadar menerima pasokan atau memberikan bantuan. Dengan demikian, keempat pabrik tersebut mendapatkan kepastian pasar dan keberlanjutan pendapatan produksi mereka. Pemikiran yang cerdas, adil, dan humanis ini membuktikan bagaimana satu program pemerintah dapat menggerakkan roda perekonomian masyarakat secara menyeluruh tanpa membiarkan satu pihak tertinggal.
Dadang juga memikirkan aspek keberlanjutan dan efisiensi sumber daya yang bernilai ekonomi bagi kelompok tani. Sisa bahan makanan dan limbah dari proses penyajian makanan tidak dibuang begitu saja, melainkan diolah secara terarah menjadi pakan ternak. Terutama di musim kemarau seperti saat ini, sisa-sisa tersebut dimanfaatkan sebagai pakan sapi bagi kelompok tani yang bernaung di bawah Gapoktan Indihiang. Langkah ini tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga menambah nilai ekonomi dari setiap sumber daya yang dikelola — sebuah bentuk siklus ekonomi yang bijaksana dan berkelanjutan.
Sebagai penutup, Dadang Daruslan menegaskan bahwa dua tujuan utama program MBG — peningkatan gizi dan pemberdayaan ekonomi — ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Di satu sisi, penyajian makanan bergizi yang terarah bertujuan meningkatkan asupan gizi anak, menekan angka stunting, serta membangun kecerdasan generasi mendatang sebagai aset terbesar bangsa. Di sisi lain, program ini menjadi penggerak pemberdayaan masyarakat melalui perluasan lapangan kerja, penguatan ekonomi petani, dan dukungan adil terhadap pengrajin lokal. “Semoga sinergi yang kami bangun ini terus terjaga, semakin kokoh, dan menjadi berkah yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat Kota Tasikmalaya,” pungkas Dadang dengan penuh harap dan keyakinan.
Red.(Bas).


Social Plugin