Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Manajer Klaster Baru, Yudi Priyono Memiliki Harapan Baru Memajukan Kawah Galunggung


Sinar Bintang My Id kab Tasik– Kawah Galunggung yang merupakan salah satu tempat wisata alam terbaik di kawasan Priangan, kini dipimpin oleh manajer baru. Yudhi Priyono sudah resmi menjabat sebagai Manajer Klaster Wisata Priangan sekaligus pengelola Kawah Galunggung. Dalam penjelasannya, Yudhi memaparkan pandangannya, perbedaan karakter tempat wisata yang pernah ia kelola, serta rencana yang disusun untuk membuat Kawah Galunggung menjadi tempat wisata yang lebih baik dan berkualitas.

Sebelumnya, Yudhi sudah berpengalaman lama mengelola Obyek Wisata Baturaden. Tempat itu sama-sama memiliki sumber air panas alami seperti Galunggung. Berkat pengalaman itu, ia paham betul seluk-beluk mengelola tempat wisata berbasis air panas. Meski berada di bawah pengelolaan yang sama, ia menjelaskan ada perbedaan mendasar yang membuat kedua tempat itu punya ciri khas masing-masing. 

“Ada hal yang membedakan keduanya dengan jelas. Di Baturaden, kandungan belerang di air panasnya cukup tinggi, sehingga cocok bagi pengunjung yang ingin berendam untuk terapi kesehatan. Berbeda dengan Galunggung, suhu airnya lebih hangat dan nyaman, serta kandungan zat mineralnya pun berbeda. Tapi kalau soal cara mengelola, menjaga lingkungan, dan standar pelayanan, prinsipnya tetap sama,” kata Yudhi, Kamis 14/05/2026. 

Menurutnya, seorang pengelola harus paham benar apa kelebihan dan ciri khas wilayah yang dikelolanya. Tanpa pemahaman itu, kebijakan yang diambil bisa jadi tidak tepat sasaran, bahkan malah merusak keindahan alam yang ada. Oleh karena itu, langkah awal Yudhi adalah memahami apa yang dimiliki Galunggung, lalu menyusun rencana yang cocok dengan karakter tempat ini.

Hal utama yang ia tekankan adalah pentingnya menjalin kerja sama dengan banyak pihak. Bagi Yudhi, memajukan tempat wisata tidak bisa dilakukan sendirian, melainkan butuh dukungan semua pihak yang terlibat. “Sejak hari pertama bekerja, saya sudah berkunjung ke desa-desa sekitar, bertemu tokoh masyarakat, berbicara dengan pelaku usaha lokal, dan menjalin hubungan baik dengan para wartawan. Bagi saya, hubungan yang akur dan saling mendukung adalah hal paling dasar untuk memajukan tempat ini,” ujarnya.

Ia juga menganggap media massa sebagai mitra penting. Berita yang disampaikan tidak hanya harus jelas, tapi juga positif dan seimbang. Hal ini bisa membuat pandangan masyarakat terhadap Galunggung menjadi lebih baik, jumlah pengunjung bertambah, dan perekonomian warga sekitar pun ikut meningkat. “Media adalah teman baik kami untuk mengenalkan keindahan dan kemajuan Galunggung ke lebih banyak orang lagi,” tambahnya

Meski masih baru mengenal lingkungan kerja, Yudhi sudah meninjau kondisi Kawah Galunggung secara mendalam. Berdasarkan pengamatan langsung, laporan dari tim kerja, dan masukan dari warga sekitar, ia sudah menentukan hal-hal apa saja yang harus diperbaiki dan dikembangkan terlebih dahulu.

Hal pertama yang ingin diperbaiki adalah petunjuk arah dan peta di dalam kawasan. “Kami sadar bahwa pengunjung butuh kemudahan saat berkunjung. Mereka harus bisa berjalan-jalan dengan nyaman, aman, dan tidak bingung arah mana yang harus dituju. Jadi, memasang dan memperbaiki papan petunjuk arah — baik di pintu masuk maupun di seluruh penjuru tempat wisata ini — adalah langkah pertama yang paling penting,” jelasnya.

Selain itu, keamanan dan kenyamanan pengunjung menjadi perhatian utama. Banyak masukan yang mengatakan kondisi jalan di beberapa titik kurang baik, kurang ada pagar pembatas di jalan yang menurun, dan lampu penerangan belum cukup terang. Hal-hal ini harus segera diperbaiki.

“Ada catatan bahwa pernah terjadi kejadian kecil karena fasilitas yang belum lengkap. Kami harus menanggapi hal ini dengan serius. Kami berencana memasang pagar pembatas yang aman di jalur-jalur yang berisiko, supaya mengurangi bahaya kecelakaan dan semua pengunjung merasa aman saat datang ke sini,” kata Yudhi.

Di sini terlihat perbedaan cara pandang antara pengelolaan Galunggung dan Baturaden. “Di Baturaden, tempat wisata tutup saat sore hari, dan tidak dikembangkan untuk dikunjungi malam hari. Tapi Galunggung punya peluang besar untuk menjadi tempat wisata yang indah dikunjungi kapan saja, termasuk malam hari. Karena itu, memperbaiki lampu penerangan di seluruh kawasan bukan sekadar pelengkap, tapi syarat mutlak agar rencana ini bisa terwujud,” ucapnya. Langkah ini menunjukkan bahwa perencanaan yang dibuat tidak hanya untuk memperbaiki kondisi yang ada, tapi juga untuk menambah nilai keindahan dan kegunaan tempat wisata ini.

Yudhi menegaskan satu hal yang menjadi dasar pemikirannya: memajukan pariwisata tidak akan berhasil kalau hanya mengandalkan kekuatan tim pengelola saja. Butuh kerja sama yang erat, kesepakatan tujuan, dan dukungan penuh dari pemerintah daerah serta instansi terkait.

“Setelah proses serah terima jabatan selesai minggu depan, hal pertama yang akan saya lakukan adalah bertemu dengan Dinas Perhubungan, instansi terkait di Pemerintah Kabupaten, serta Badan Nasional Pengelola Kawasan Khusus. Kami harus menyamakan tujuan, menyusun rencana kerja yang sama, dan berkoordinasi agar mendapat dukungan — baik soal dana, peraturan, maupun perbaikan fasilitas umum yang menjadi tanggung jawab pemerintah,” ungkap Yudhi.

Ia paham betul bahwa agar sebuah tempat wisata bisa bertahan lama, harus ada keseimbangan antara pengembangan usaha, menjaga lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Kerja sama dengan pemerintah bukan sekadar urusan formalitas, tapi cara memastikan setiap langkah kemajuan yang dilakukan sesuai dengan rencana pembangunan daerah dan aturan yang berlaku.

Di akhir percakapan, Yudhi menyampaikan harapannya. Melalui perbaikan bertahap, pelayanan yang lebih baik, serta jaringan kerja sama yang makin luas dan kuat, ia ingin Kawah Galunggung tidak hanya kembali populer sebagai tempat wisata, tapi menjadi kawasan yang dikelola dengan baik, tetap lestari, dan memberikan manfaat nyata bagi warga sekitar maupun para pengunjung.

“Galunggung memiliki keindahan alam yang luar biasa dan sejarah yang berharga. Tugas kami adalah merawatnya, menatanya dengan hati-hati, dan menyajikannya dengan cara yang baik, aman, dan nyaman. Tujuannya supaya keindahan alam ini bisa dinikmati oleh kita sekarang maupun generasi mendatang,” tutupnya.

Red.(Bas).