Sinar Bintang — kota Tasikmalaya, 9 September 2026 Peningkatan kualitas pendidikan dasar tidak hanya bertumpu pada sarana dan prasarana, melainkan pada kemampuan pendidik menghidupkan suasana belajar yang bermakna, relevan, dan mampu menumbuhkan daya pikir kritis peserta didik. Sejalan dengan semangat tersebut, Forum Kelompok Kerja Kepala Sekolah (FKKS) Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, menyelenggarakan pelatihan strategis bertajuk “Merancang Pembelajaran STEM Secara Kontekstual, Kreatif, dan Aplikatif di Sekolah Dasar”, yang berlangsung selama tiga hari, mulai Rabu hingga Jumat, 9–11 September 2026, di Gedung Letjen Mashudi, Universitas Perjuangan Tasikmalaya.
Latar belakang penyelenggaraan pelatihan ini lahir dari kesadaran bersama bahwa tantangan pendidikan masa depan menuntut transformasi metode pembelajaran — tidak lagi berpusat pada penghafalan fakta, melainkan pada penguasaan kemampuan berpikir sistematis, pemecahan masalah, serta kreativitas yang berakar pada keseharian. Pendekatan STEM (Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika) menjadi kerangka utama yang dipilih, mengingat pendekatan ini mampu menjembatani pengetahuan teoretis dengan penerapan nyata, sehingga siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menciptakan solusi sederhana dari lingkungan sekitarnya.
Kegiatan ini diikuti oleh ratusan guru Sekolah Dasar, baik negeri maupun swasta, se-Kecamatan Cihideung, serta dihadiri oleh para pemangku kepentingan pendidikan dan narasumber berkompeten: Kepala Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya Dr. H. Rojab Risman Taufik, S.Sos., M.Si., pimpinan Universitas Perjuangan, Kabid PGTK, Kabid SD, para pengawas sekolah, tim pengembang kurikulum Disdik Kota Tasikmalaya, serta praktisi pendidikan lainnya. Secara resmi dibuka, pelatihan ini menghadirkan narasumber yang mendalam menyampaikan materi mulai dari konsep dasar STEM, penyusunan modul ajar, hingga praktik langsung pembuatan media pembelajaran berbiaya rendah.
Ketua Pelaksana Kegiatan, Nita Puspitawati, M.Pd., menjelaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan wujud komitmen FKKS Cihideung dalam menjawab tantangan kurikulum yang dinamis. “Kami tidak ingin STEM hanya menjadi istilah yang terdengar asing dan rumit. Justru, inti dari pelatihan ini adalah kesederhanaan: bagaimana memanfaatkan benda-benda di sekitar, tanpa biaya besar, untuk menciptakan pengalaman belajar yang nyata. Pembelajaran yang baik tidak harus mahal, melainkan harus bermakna,” ungkapnya.
Lebih jauh, pada sesi kedua peserta juga dibekali keterampilan menyusun media pembelajaran berbiaya rendah (low-cost media), yang memungkinkan setiap guru menerapkan prinsip STEM di kelas masing-masing tanpa terkendala keterbatasan sarana. Prinsip inilah yang menjadi penekanan utama: pembelajaran yang inklusif, kreatif, dan dapat dijalankan di mana saja.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, Dr. H. Rojab Risman Taufik, S.Sos., M.Si., dalam sambutannya memberikan apresiasi yang mendalam terhadap inisiatif FKKS Cihideung. “Penguatan kompetensi guru adalah fondasi utama peningkatan mutu pendidikan. Pembelajaran STEM sangat relevan untuk membekali anak-anak menghadapi masa depan yang penuh perubahan. Nilai-nilai seperti kemampuan berbicara di depan umum, kepekaan estetika, hingga kasih sayang terhadap sesama pun dapat terintegrasi dalam pembelajaran ini — sehingga anak tumbuh tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter,” tegasnya.
Diharapkan, setelah pelatihan ini selesai, para guru dapat kembali ke sekolah masing-masing dengan pemahaman yang utuh dan mampu menerapkan pembelajaran STEM secara kontekstual. Bukan sekadar meniru pola, melainkan berinovasi sesuai kondisi kelas dan lingkungan peserta didik, sehingga mutu pendidikan dasar di Kecamatan Cihideung terus tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan.
Red.(Bas).



Social Plugin